Melihat gerakan 2019 ganti presiden

panjimas.com
Gerakan 2019 ganti presiden menjadi sebuah perbincangan publik saat ini. sebagai masyarakat tentu melihat bahwa gerakan ini adalah langkah awal atau menu pembuka dalam perhelatan tahun politik 2019.

Gejala ini terlihat sebagai sebuah kenyataan bangsa bahwa politik merupakan tahun persaingan, kandidat, kampanye baik yang putih dan hitam dan akhirnya adalah proses pemilihan.

Akan banyak riak-riak kecil hingga ombak besar, mulai dari diskusi warung kopi sampai kafe yang kelas bourjuis, diskusi pasar tradisional sampai pasar saham, masyarakat kultural hingga dinamis. tanpa sadar sudah mengisi hari-hari bahwa politik adalah keniscayaan, semua akan terlibat dalam narasi politik Pemilu 2019.

Narasi besar hari ini adalah sebuah turbulensi dari keadaan grass root yang terjadi, dimana dikalangan awam tentu akan merasakan banyak desakan yang dirasakan saat ini. Bisa jadi ulama yang hari ini ditangkapi, atau pernyataan menteri bukan menjadi beban berat. namun, ketika harga listrik tidak terkendali, Premium yang langka, atau harga-harga yang sulit diprediksi seperti Naik nya harga tak terkendali secara tiba-tiba.

Gerakan 2019 ganti presiden sulit untuk masuk ranah politis karena tidak menyebutkan siapa calonnya. namun, menjadi alat bagi siapa yang sedang mengejar sebuah elektabilitas dan popularitas baru. Gerakan 2019 jadi presiden tetap dikatakan politis karena menyangkut pemilih dengan berbagai macam latar belakang.

Gerakan 2019 tentu bukan sekedar kaum agamis, akademis, atau para ekonom yang resah dengan kondisi bangsa. Gerakan ini merupakan sebuah User Experince yang ditemukan secara tidak sengaja namun tepat dibutuhkan bangsa ini.

Banyak yang tidak paham gerakan ini, walaupun beberapa kali menjadi topik pembahasan di media televisi. tentu Gerakan hastag dan baju 2019 ganti presiden seakan menjadi sebuah pendapat umum masyarakat bahwa “ini yang gue butuhin saat ini”. gerakan ini tak akan bisa di jelaskan secara gamblang sebab faktornya dirasakan dalam masyarakat namun tak tertangkap skala ekonomi tercanggih sekalipun.

ya. masyarakat hanya diikuti oleh harapan besar, harapannya jelas, namun solusi yang ada memang akan menjadi teori mending. mending si dia punya yang punya latar belakang buruk di reformasi asalkan membuat harga-harga murah, atau mending di pecat asal tidak bicara kotor, dsb. tentu stigma yang di terima oleh petahana adalah bahwa sosok yang akan dikorbankan.

Status petahana yang diserang kanan kiri, bahkan oleh orang paling terdekat disekelilingnya adalah klimaks yang tak dapat dihindari. Masyarakat tentu masih menunggu apa yang akan dilakukan oleh petahana dalam mempertahankan kursinya. bisa jadi dalam waktu dekat akan ada formulasi bagi petahana dengan menunaikan janji-janji sehingga rakyat akan lupa pernah terjadi masa paling sulit yang di alami masyarakat menengah kebawah yang menyebabkan gerakan ini menjadi menggurita seperti sekarang ini.

Cepat atau lambat gerakan ini akan terus membesar, karena tidak ada tokoh didalamnya. namun, tentu sesuatu yang tak bisa di duga sebelumnya seperti 2019 ganti presiden ini tentu banyak variabel yang menyebabkan sebuah pemimpin digantikan semisal firaun dengan laut terbelahnya atau abrahah dengan burung ababilnya. namun ini era modern bisa jadi alat itu hanyalah sebuah kaos atau hesteg.

Jakarta, 3 Mei 2019

No comments:

Post a Comment

Pages